Monday, December 29, 2008

Bab II The Firm


BAB II
The Firm

Ini sudah tahun ketiga Andra bekerja di firma NVP, sebuah firma hukum besar yang sangat terkenal di Jakarta. Firma yang dari namanya saja, para professional akan segera menjawab dengan kata “Oohh… disitu toh…wah hebat dong!!” atau “I know that firm”. Atau bagi orang awam biasanya bakal heran..”Kantor apa tuh?”…”Apa?? Lofem?? Apa tuh??... dan setelah diberitahu kalau itu kantor pengacara, nah langsung deh nyaut mereka…”Ooooohhh kantor pengacara toh… kenal Simpul Sitopang dong?? Memang sedikit pengacara yang dikenal orang, maklum pengacara dengan jambul lupus di jidat ini paling sering diliput televisi untuk kasus-kasus artis, dari mulai sengketa warisan, tanah, tipu-menipu, sampai perceraian yang rata-rata semua kliennya adalah artis atau pejabat atau artis jadi pejabat atau pejabat jadi artis, yah begitu aja bulak-balik. Dan Andra biasanya hanya tersenyum sinis saja kalau mendengar nama pengacara yang tadi atau pengacara lainnya yang sering masuk televisi karena kasus begitu disebut, karena menurut Andra, kasus-kasus yang seperti itu bobotnya gak banyak, lebih banyak sensasinya soalnya.
Firma hukum NVP adalah kepanjangan dari nama-nama Partnernya, yaitu Notosastro, Verdinand and Partners. Partner di dalam firma hukum berarti adalah para pendiri, pemilik, atau penanggungjawab. Kalau di perusahaan mereka ini adalah jajaran direksinya. Bisa salah satu menjadi CEO dan yang lain direktur, tapi intinya mereka-mereka inilah yang menjadi penanggungjawab dan bisa mewakili firma tersebut untuk berhubungan dengan pihak ketiga atau kliennya. Masing-masing dari mereka akan bertanggungjawab kepada para kliennya masing-masing.
Lawfirm NVP berkantor di bilangan elit dan merupakan sentra bisnis di Jakarta. Terletak di sebuah gedung bertingkat 30 dengan biaya sewa termahal di Indonesia. Di gedung ini pula banyak berdomisili perusahaan-perusahaan besar, baik lokal maupun multinasional. Katakanlah perusahaan oil & gas, bank, asuransi, consumer goods, periklanan, hampir semua perusahaan terbesar dunia ada disini, dan bahkan kegiatan lantai bursapun ada di gedung ini. Beberapa tahun lalu, gedung ini pernah diguncang bom yang untungnya hanya berkekuatan kecil dan tak sanggup meruntuhkan gedungnya. Maklum setelah masa reformasi ini, sepertinya banyak sekali orang-orang aneh yang entah bagaimana berkeliaran seperti wabah dimana-mana, apakah itu dibiarkan, atau tak diawasi lagi atau bagaimana lah itu, pokoknya mereka seperti layaknya kuda dilepaskan dari kandangnya, berlari kemanapun mereka suka tanpa memperhatikan apapun yang ada di sekelilingnya. Semenjak kejadian itu, gedung ini dan gedung-gedung lainnya kemudian latah menerapkan pengawasan dan penjagaan yang ketat. Mulai dari menyediakan tenaga keamanan lebih banyak yang ditempatkan di berbagai sudut. Kamera keamanan yang juga di berbagai sudut strategis. Pintu dengan alarm seperti di bandara. Bahkan yang lebih canggih lagi adalah, alat pendeteksi bom yang bisa mendeteksi hingga partikel-partikel campuran dari bom, ck…ck…ck… hebat…hebat. Untuk penghuni gedung biasanya diharuskan untuk memiliki stiker tanda parkir dan name tag penghuni gedung, jadi selain proses pemeriksaan lebih cepat, punya akses parkir di gedung, juga bisa sedikitnya pamer ke pengunjung gedung bahwa dia ngantor di situ, agak norak sih memang, tapi itu memang privilege nya mereka.
Let’s discuss about the partners of the firm…
Notosastro bernama lengkap Handiputro Legowo Notosastro, tidak ada penjelasan lebih detil mengenai namanya, selain beliau adalah orang Jawa asli, lahir di Semarang, 43 tahun yang lalu, dengan tinggi badan yang fantastis di jamannya, maklum dulu kan orang Indonesia pendek-pendek, paling tinggi juga 165 cm, nah beliau ini tingginya 180 cm. Berat badan proporsional walaupun terlihat sedikit gundukan di perutnya, tapi masih oke lah. Kulit putih, tapi ada bakat sawo matang juga kalau berjemur terlalu lama. Muka sedikit bulat dengan mata yang cukup besar dan hidung sedikit mancung. Rambut hitam tapi selalu bergaya cepak, menurut beliau biar praktis, jadi gak usah nyisir kalau abis mandi dan kalau kesiangan gampang ngurusnya. Alis tebal dan berkumis tipis di bibirnya yang sedikit tebal. Sebetulnya beliau ini berparas lumayan, tapi didukung dengan badan yang tinggi proporsional dan aura karismatik, menjadikan dia terlihat lebih lumayan lagi untuk pria seusianya (kalau perempuan mungkin banyaknya bilang karismatis atau ganteng).
Sementara Frans Verdinand a.k.a Verdinand, adalah orang Menado asli yang lahir dan besar di Jakarta 42 tahun yang lalu. Nah kalau yang satu ini pasti dibilang tinggi di jamannya, padahal tingginya cuman 167 cm, yah beda 2 sampai 5 centi lah dari tinggi pria kebanyakan di jamannya. Kalau yang ini ganteng, bahkan untuk ukuran bapak-bapak di jaman sekarang sekalipun. Berat proporsional, tapi sama dengan Notosastro, sedikit membuncit di perut. Kulit sawo matang tapi bersih, rambut pendek rapih tanpa belahan tapi tak pernah kelimis, maklum dulunya anak bandel katanya, jadi ogah banget kelimis-kelimisan begitu. Muka bulat cenderung oval dengan hidung mancung dan bibir tipis, tapi tetap plus kumis tipis, sepertinya ini asesoris wajib di jaman dulu ya?
Mereka berdua ini punya kesamaan dan perbedaan. Kesamaannya adalah, sama-sama doyan otomotif, peminum kopi dan perokok berat serta penggemar lagu-lagu Phil Collin dan the Queen. Kalau sudah ada Phil Collin dan the Queen jangan diganggu deh. Tapi mereka juga punya perbedaan, yaitu Verdinand galaknya setengah mati, sementara Notosastro lebih kalem tapi sebenarnya killer juga, hanya lebih cold blooded dari Verdinand, mungkin karena beliau ini orang Jawa. Selain itu, Verdinand lebih “family man” alias, mengutamakan keluarga. Bukan berarti Notosastro tidak cinta keluarganya, hanya saja mereka punya pandangan lain. Kalau menurut Verdinand, sesibuk apapun dia, dia harus mengusahakan bisa pulang ke rumah setidaknya pukul 8 malam sebelum anak-anaknya pergi tidur. Kalau Notosastro, kecintaannya diwujudkan dengan bekerja sekeras-kerasnya, bahkan hingga menginap di kantorpun tak mengapa, yang penting tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga untuk mencari nafkah bisa terpenuhi.
Untuk seusia mereka, mereka tergolong sangat-sangat sukses dalam waktu yang extra cepat juga. Maklum mereka ini memang cerdas-cerdas dan pekerja keras. Semasa kuliah mereka ini memang lulusan terbaik. Dan tak pernah terpikir dalam benak mereka untuk menjadi lawyer seperti sekarang ini, karena jaman dulu jadi lawyer bukanlah cita-cita yang ideal setelah lulus dari fakultas hukum. Kebanyakan di jamannya para wisudawan-wisudawati akan lebih bangga kalau bisa diterima sebagai in-house, yaitu bagian hukum di perusahaan, baik di perusahaan besar nasional maupun multinasional, terutama oil & gas company. Selebihnya seperti mainstream waktu itu, menjadi pegawai negeri adalah idaman setiap calon mertua dan wanita. Jadi mereka berdua ini sebetulnya co-incidentally diterima menjadi lawyer dan lama-lama jatuh cinta menjadi lawyer hingga sekarang. Di saat-saat senggang dari pekerjaan, salah satu diantara mereka sering mengajak Andra berbincang mengenai bagaimana mereka meniti karir dahulu, benar-benar dari nol. Semua hambatan dan rintangan mereka lalui. Dari mulai gaji yang kecil hingga peloncoan bertubi-tubi baik dari senior maupun partner di lawfirm tempat mereka bekerja dulu. Namun dengan sabar dan cerdiknya, akhirnya mereka bisa bekerja di lawfirm luar negeri, yaitu Notosastro pernah bekerja di sebuah lawfirm besar di Inggris, sedangkan Verdinand pernah bekerja di sebuah lawfirm besar di Singapura. Dan akhirnya sudah bisa ditebak, mereka mendirikan lawfirm sendiri dengan nama NVP ini. NVP sendiri mereka dirikan 6 tahun yang lalu, tapi karena banyaknya klien perusahaan besar asing yang mereka tangani dan memang mereka ini sudah diakui handal dalam menangani kasus corporate, maka wajarlah kalau dalam waktu 6 tahun lawfirm ini sudah memegang reputasi yang begitu besar. Sebetulnya hingga kini NVP sudah mengangkat 3 orang partner lainnya, namun nama-nama mereka memang tidak dicantumkan sebagai nama lawfirm karena kendali tetap ada di kedua partner pendiri, selain itu mungkin takut merusak fenshui nama lawfirm. Kehebatan mereka berdua adalah, punya nasionalisme yang tinggi, ini terbukti dengan sudah banyaknya pinangan dari lawfirm-lawfirm besar internasional yang datang. Namun mereka tolak semua dengan halus, alsannya adalah mereka tidak menyukai ikatan yang ekslusif, jadi bisa open relationship, gitu kalau bahasa anak jaman sekarang.
NVP menyewa 2 lantai penuh di lantai 16 dan 17 dari gedung tersebut. Semua lantai dihiasi dengan ornament kayu dan warna kayu, ini seiring dengan selera kedua partner tadi, agar kantor terkesan lebih elegan. Pencahayaan begitu terang dengan beberapa lampu sorot kecil layaknya galeri di dinding untuk menerangi lukisan-lukisan koleksi kedua partner. Sofa-sofa kulit warna hitam terlihat mewah di ruang tamu, ditemani meja kaca ukuran besar dengan rangka stainless serta rak majalah yang juga dari stainless berisikan lengkap majalah-majalah popular, mulai dari majalah hukum, gaya hidup, berita dan tentunya majalah otomotif. Sebuah TV plasma ukuran 50 inch terpasang rapi di dinding ruang tamu berhadap-hadapan dengan sofa-sofa tadi. Pokoknya tamu pasti dimanjakan di ruang tamu tersebut. NVP mempekerjakan 25 orang lawyer, 10 orang paralegal, 2 orang librarian, 2 orang IT, 1 orang office manager merangkap HRD Manager, 2 orang office boy dan seorang receptionist. Para partners dan 5 orang Senior Associate, memiliki ruangan mereka masing-masing di lantai atas. Sedangkan masing-masing 10 Associates dan 10 Junior Associates serta paralegal, librarian, IT, HRD, office boy dan receptionist semuanya berada di lantai bawah. Selain itu, NVP juga punya 5 ruang meeting, ruang meeting besar untuk meeting internal dan training serta ruang meeting sedang ada di lantai atas, sedangkan 3 ruang meeting lainnya dengan ukuran yang lebih kecil ada di bawah. Setiap Associate membawahi dua orang Junior Associate dan mereka semua berada dalam satu ruangan berukuran 3 x 5 m. Setiap lawyer memiliki meja dan kursinya masing-masing yang masih berornamen dan berwarna kayu. Masing-masing dilengkapi dengan komputer spesifikasi terbaru beserta layar LCD TV 16 inch. Tidak ada lemari di ruangan, kecuali lemari kecil di bawah meja, karena semua dokumen seharusnya disimpan di perpustakaan, kecuali dokumen-dokumen yang berhubungan dengan on going cases biasanya berderet rapi di atas meja masing-masing lawyer. Selebihnya di ruangan dan meja terdapat barang-barang pribadi dari masing-masing lawyer pengisi ruangan. Semua ruangan lawyers memiliki kaca yang bisa langsung melihat keluar, kalau yang beruntung sih bisa melihat ke situasi jalanan atau gedung-gedung lain, sementara yang kurang beruntung hanya bisa melihat gedung lainnya dan sedikit suasana jalanan.
Oh ya, bagi yang belum tahu soal rank atau kepangkatan di lawfirm, kurang lebih seperti ini…
Partner, adalah pendiri, pemilik dan/atau penanggungjawab dari firma. Mereka biasanya punya kewenangan masing-masing juga, ada Managing Partner yang punya final decision agar firma, dan jabatan ini dipegang oleh Notosastro. Kemudian ada Senior Partner yaitu partner pendiri dan senior, ini dipegang oleh Verdinand. Dan partner biasa lainnya, yang hanya punya wewenang untuk mendapatkan dan menangani klien serta bertanggungjawab akan hasil pekerjaan mereka kepad klien.
Associate, adalah rekan kerja dari partner, tapi kalau anak-anak NVP biasanya berseloroh dengan sebutan “pembantu” atau “romusha”, karena memang mereka ini yang bekerja keras mati-matian untuk si partners, walaupun sebernya kalau dipikir-pikir ya wajah lah, kan seperti kata pepatah, kalau memang ingin berada di puncak, ya mendakilah ke atas atau belajar terbang. Mereka juga terdiri dari tiga tingkatan biasanya, yaitu Senior Associate, Associate dan Junior Associate. Masing-masing hanya dibedakan dari tingkat kapabilitas mereka dan tenure serta seberapa besar mereka telah meringankan beban partners-nya, misal sudah gak pernah diawasi lagi dalam bekerja, bisa memberikan alternative solusi dan para partners sudah confidence melepas mereka untuk bertemu langsung dengan klien.
Paralegal, adalah tingkatan di bawah associate. Nah kalau para associates menganggap diri mereka “pembantu”, para paralegal ini menganggap diri mereka adalah “jongos” atau mungkin kaum “sudra”, karena rata-rata kualifikasi mereka ini bisa siapapun asal mau bekerja keras dan tidak harus sarjana hukum. Dan boleh dibilang karir mereka ini kalau tidak menonjol sekali, sudah dipastikan mentok. Tugas mereka adalah memberikan data-data yang dibutuhkan oleh lawyers untuk melakukan analisa.
Kalau HRD, office manager, IT, OB dan receptionist apa perlu diterangin...??? Masa gitu aja gak tau ah.
Ruangan Andra, untungnya punya view yang bagus, yaitu bisa melihat suasana jalanan Sudiman utuh dan beberapa gedung lain di depannya, jadi kalau suntuk Andra dan teman seruangannya bisa melihat-lihat pemandangan jalan atau gedung dengan bebas. Sebagai seorang Associate, Andra memilih mejanya berdampingan dengan jendela, jadi kalau suntuk atau kurang ide, yah tinggal nengok ke kanan saja. Meja Andra seperti biasa tidak pernah rapih, padahal di NVP ada kebijakan 5R untuk kerapihan tempat kerja. Menurut Andra, kalau mejanya rapih kayaknya kurang sreg, gak enak liatnya, sepertinya kurang kerjaan gitu. Dokumen dan kertas-kertas menumpuk di sisi kiri meja bersebelahan dengan LCD TV komputer. Sementara di sebelah kanannya, setelah mouse pad, lumayan lowong, karena biasanya dipakai Andra untuk menulis atau membaca buku. Di kanan atas terdapat box stationery, mug, kalender dan beberapa hiasan pribadi seperti roket belang Tintin, replika mobil F1 dan bendera-bendera kecil lambang tim-tim sepakbola favorit Andra, yaitu Barcelona, Bayern Munchen, Intermilan dan Newcastle United. Sementara dua rekan lainnya yaitu Eka dan Roni, duduk bersebrangan dengan Andra. Eka duduk di seberang kiri sedangkan Roni di seberang kanan Andra. Sementara pintu ruangan berada di sisi kiri Andra atau di sisi kanan dari rekan-rekan Andra lainnya. Dengan posisi seperti itu, mereka bertiga bisa saling berdiskusi dengan nyaman tanpa meninggalkan meja mereka masing-masing. Pintu ruangan seperti biasa selalu tertutup, ini sejalan dengan pekerjaan mereka yang menuntut confidentiality tinggi, termasuk kalau mereka ngobrol terus tanpa kerja juga gak akan ada yang bakalan tahu, kecuali salah satu dari mereka menjadi “ular” untuk yang lainnya.
“Mukanya males amat mas Andra…lagi gak mood yah?” tanya Eka. Gadis bernama lengkap Eka Risti ini adalah junior associate yang baru satu bulan yang lalu lulus masa probation kedua. Eka tergolong cerdas dan cekatan, layaknya seorang lawyer cara berpikirnya sistematis dan analogis. Dengan usianya yang baru 23 tahun dan menyandang gelar cum laude wajarlah dia bisa masuk ke NVP bersama 4 rekannya dan menyisihkan ratusan pelamar lainnya. Perawakan Eka cukup tinggi untuk seorang perempuan Indonesia, yaitu 170 cm, dengan rambut tebal sebahu sedikit berombak di ujung, muka cenderung oval dengan mata sedang beralis tipis, hidung mungil bibir tipis dan berkulit kuning langsat. Paras manis dengan sedikit riasan dan lipstik tipis.
“Yahh biasa lah Ka, hari Senin emang begini nih…males banget gue…biasa lagi manasin mesin nih, entar juga jam sepuluhan ke atas langsung tancap gas pelan-pelan gue…he…he…” jawab Andra sambil menyeruput teh manis yang mulai dingin di mug berlogo Bayern Munchen-nya.
“Ha…ha…kalau menurut saya sih…itu sebenernya cuman paham yang ditanamkan orang-orang turun temurun…kayak chips gituh…ditanem dikepala orang dari generasi ke generasi. Sebenernya kan setiap hari apa bedanya sih, kecuali hari libur, kan sama aja kita kerja-kerja juga. Coba kalau misalnya hari Senin juga ikut libur, kok gak ada orang yang bilang I don’t like Tuesday gituh? Ya kan? Cuman mindset tuhhh…dilawan aja lah Mas!!!” celetuk Roni nimbrung dengan gayanya yang medok. Roni, bernama lengkap Roni Satrio, adalah orang Yogya asli. Usianya menginjak 26 tahun di tahun ini. Jabatannya masih junior associate juga tapi lebih senior dari Eka, karena Roni sudah gabung di NVP dari dua tahun yang lalu. Tingginya lebih pendek 2 centi dari Eka, dengan perawakan yang cukup montok untuk laki-laki. Muka bulat dengan mata sedikit sipit dan beralis tipis. Hidung besar yang katanya sumber hoki dan bermulut sedikit manyun. Potongan rambutnya selalu cepak, karena memang ikal cenderung kribo, jadi kalau panjang mirip Edi Brokoli. Pernah suatu saat dia biarkan kribo afro begitu, katanya lagi trend, tapi langsung kena tegur Bu Vrida sebagai HRD dan Office Manager karena gak professional dan bisa menurunkan citra kantor. Dengan kulitnya yang sawo matang memang jadi mirip penyanyi rap atau reggae kalau dia kribo begitu.
“Ah sotoy loe Ron…kayak gak pernah males di hari Senen aja loe…” hardik Andra spontan
Tuuutt….tuutt…tuutt…tuutt…
“Waduh si bos nih nelpon pagi-pagi…mo ngapain yah? Males deh gue!” keluh Andra mendengar telepon berbunyi. Dari nada deringnya mereka biasanya sudah bisa tahu kalau itu telepon dari internal, soalnya berbunyi panjang dengan sedikit jeda.
“He…he…selamat ulang tahun ya Mas… makanya jangan males-malesan hari Senen..” seloroh Roni
“Lho kok selamat??? Pan entar kalau urusannya kerjaan loe juga kebagean getahnya bukan Ron?”
“Iya nih mas Roni…suka asal aja deh…” balas Eka
“Halo dengan Andra…”
“Ndra… loe ada appointment gak besok pagi jam 10? Gue liat di kalender loe sih masih kosong nih sampai jam 3 sore” tanya pak Notosastro di line seberang. Pak Notosastro dan Pak Verdinand memang selalu memanggil partners lain, lawyers dan karyawan lainnya dengan bahasa gue-loe untuk lebih mengakrabkan dan mempersempit jarak.
“Oh…coba saya cek dulu Pak” dengan sigap Andra membuka kalender di komputernya, ternyata memang masih kosong sampai jam 3 sore. Untuk memastikan, dia buka juga kalender di smartphone nya, ternyata juga masih kosong.
“Oh ya, masih kosong Pak, memang ada apa Pak?”
“Gue mau ngundang loe meeting, besok ada calon klien kita, perusahaan besar lokal, confirm yah?”
“Kira-kira ada kisi-kisinya gak Pak, jadi saya bisa siapin dulu?”
“Belum ada Ndra, kayaknya dia lebih nyaman ketemu dulu sama kita, loe siapin diri loe aja biar fresh besok”
“Ok Pak, confirm” jawab Andra pasti, walau dalam hati berguman “Iya fresh kalau gue gak ngerjain kerjaan ampe malem yeh”
“Pak Sastro ya mas? Ngasih kerjaan yah?” tanya Eka segera setelah Andra menutup telepon.
“Iya Ka, loe bedua pada siap yah, kayaknya klien gede juga nih, pasti nambah lagi load kita”
“Siap mas, selalu siap” tukas Roni dengan gaya tiba-tiba berdiri dari kursinya dan memberi hormat layaknya hormat bendera.
“Mas Roni…mas Roni… suka lebay kadang yah”
“Bukan lebay lagi Ka, belagu emang dia” jawab Andra sambil menyeruput lagi teh manisnya yang memang sudah benar-benar dingin sekarang.

No comments: