Sunday, February 15, 2009

Bab III The Client





BAB III
The Client

Pukul 08.50 Selasa pagi, Andra baru saja masuk ke ruangannya. Dengan terburu-buru dia berjalan menuju ke mejanya dan menaruh tas di atas meja untuk kemudian menyalakan tombol CPU. Walaupun jam resmi kantor adalah jam 08.30 pagi sampai 05.30 sore, tapi kebanyakan Partners, Senior dan Associates di NVP jarang masuk dan pulang tepat waktu atau istilahnya tenggo seperti kebanyakan kantor biasa, kecuali para junior associates dan staff lainnya. Sepertinya kata “jam kerja” hanyalah istilah bagi mereka semua para lawyers di NVP, karena pada kenyataannya tidak pernah ada jam kerja alias could be 24 hours dedication. Banyaknya klien yang ditangani NVP, belum lagi sebagian besar adalah klien asing dari Amerika atau Eropa yang memiliki perbedaan waktu hingga 12 jam membuat mereka harus tetap melayani bahkan hingga larut malam atau pagi sekalipun. Hal ini jelas mempengaruhi jam biologis mereka untuk beristirahat. Jadi wajar kalau patokan para Senior dan Associates adalah jam masuk kantor Partners, yang biasanya paling pagi datang yaitu Pak Indrajati Sudrajat, partner termuda dan baru diangkat sekira 1 tahun kemarin. Beliau ini biasanya masuk kantor sekira jam 9 pagi, sementara 4 lainnya rata-rata antara jam 10 atau 11 siang. Kecuali kalau ada meeting lebih pagi dari jam-jam itu, maka tidak boleh terlambat. Sementara para Junior Associates masih belum boleh macam-macam, mereka harus datang on time tapi juga tidak boleh pulang tenggo, itu sudah jadi aturan tidak tertulis di sana. Kalau para staff lain selain lawyers, wah jangan ditanya deh, mereka sudah layaknya kasta sudra, tapi untungnya mereka boleh pulang tenggo selama pekerjaan sudah selesai. Yang biasanya agak merana adalah, OB dan supir para Partners, kalau mereka ini jamnya ngikut Partners saja.
“Pagi guys! Sapa Andra
“Pagi mas” Eka
“Si Roni kemana Ka, lagi sarapan yah di pantry?” Andra
“Iya mas, biasa dia mah pan jam segini. Meeting ya mas pagi ini?” Eka
“Iya Ka, males banget gue tuh sebenernya meeting pagi-pagi Ka” keluh Andra seraya mengambil mug putih di atas meja yang sudah berisi teh manis hangat seperti biasanya yang disediakan Udin setiap pagi.
“Ha…ha…mas Andra… mas Andra… aku tau… karena bukan A time-nya mas Andra kan?” jawab Eka mantap
“He…he.. lu apal aja Ka. Iya, A time gue kan after lunch ampe subuh biasanya ha…ha…” Andra terbahak mengingat A time-nya, yaitu waktu efektif yang dimiliki seseorang secara khusus dimana dia bisa berpikir secara jenih dan efektif, sehingga di waktu-waktu tersebut semua ide dan pemikiran terbaik biasanya dengan mudah keluar.
“Ya udah, jadi notulen aja mas, pasti aman, tapi siap kalau si babeh tiba-tiba nanya-nanya” usul Eka
“Nahh… absolutely that’s what I’ve been thinking of…ha…ha..ha… ya udin ah, gue mau cek-cek email dulu yah” Andra
“Oke mas, aku juga mau ke library dulu ah, ada yang mau dicari nih undang-undang… good luck anyway yah mas” Eka seraya keluar ruangan
“Thank ya Ka” sahut Andra kemudian duduk di depan komputernya memindai email-email yang masuk ke inbox-nya.
“Tuuuttt.. tuuuttt.. tuuuuttttt..” Bunyi telepon mengagetkan Andra yang sedang berbenah untuk meeting. Jam di tangannya menunjukkan pukul 09.45 pagi.
“Halo..Andra..” jawab Andra
“Ndra… calon klien sudah datang… ketemu di ruang BW yah”
“Ok Pak…segera” bergegas Andra pergi setelah menutup teleponnya
Ruang meeting BW yang dituju ada di lantai atas. Ini adalah ruang meeting utama yang ada di NVP. Nama BW diambil dari singkatan bahasa Belanda untuk menyebut Kitab Undang-undang Hukum Perdata yaitu Burgerlijk Wetboek. Kedua partners sengaja menamakan ruang utama dengan nama ini, karena memang mereka berdua begitu mengagumi BW sebagai undang-undang yang ajaib, kenapa lacur, karena undang-undang ini sebetulnya adalah warisan dari jaman Napoleon Bonaparte yang kemudian diadopsi oleh Belanda. Dulu di abad ke-15, setiap daerah dan kota di Belanda memiliki hukum yang berbeda-beda namun kebanyakan mengambil dari hukum Romawi. Kemudian pada tahun 1531, ketika raja Belanda keturunan Spanyol berkuasa, Charles V, menitahkan dilakukannya peng-kodifikasian, yaitu menjadikan semua hukum dan kebiasaan yang ada menjadi undang-undang tertulis dan sistematis. Namun rencana ini urung terlaksana karena adanya perang 80 tahun dan berakhirnya kekuasaan Spanyol. Lalu pada masa Batavian Republic pada 1801 pernah dihidupkan kembali rencana kodifikasi ini namun tetap tidak terlaksana. Pada 24 Mei 1806, Kerajaan Belanda menjadi negara rekanan Perancis dibawah pimpinan saudara Napoleon yaitu Louis Bonaparte atau dalam bahasa Belanda bernama Lodewijk Napoleon. Louis dititahkan oleh Napoleon untuk memperkenalkan hukum yaitu Code Napoleon di Belanda melalui Keputusan Kerajaan tanggal 1 Mei 1809. Pada tahun 1813 ketika Belanda merdeka, peng-kodifikasian kembali dilakukan yang pada akhirnya parlement mengesahkan BW sebagai kitab undang-undang hukum perdata bagi negara Belanda. Ajaibnya undang-undang ini adalah, walaupun umurnya sudah beratus tahun tapi asas atau prinsipnya masih berlaku hingga masa kini. Kemudian digunakan Belanda di Indonesia ketika mereka menjajah di negeri ini, yaitu diumumkan melalui lembaran negara Staatsblad No.23 pada 30 April 1847 dan berlaku mulai Januari 1948. BW terdiri dari empat bab dan 1998 Pasal. Bentuk kitabnya rata-rata sebesar dan setebal sebuah kue brownies yang banyak dijual di Bandung. What??? Yup, you’ve got the right to be surprised, memang banyak banget pasalnya dan frankly said, not every law scholar nor lawyer hapal di luar kepala semua aturan dalam BW, it’s so nonsense. Kebanyakan mereka hapal hanya pasal-pasal yang sering digunakan. Jadi, walaupun wajar-wajar saja, tolong dipirkan kembali apabila bertanya kepada mereka: “jadi hapal undang-undang dong?”. Alasan lain dari penggunaan nama BW yaitu NVP memang lebih mengkhususkan di bidang corporate yang non-litigasi, jadi tentunya BW ini sudah jadi buku dewa buat mereka.
“Selamat pagi…” sapa Andra kepada calon klien dan pak Sastro yang sudah lebih dulu ada di ruangan.
“Nah, ini associate kami Pak, Andra, Andra ini Pak Pieter”
“Andra, ini kartu nama saya Pak” seraya menyodorkan kartu nama kepada pak Pieter.
“Pieter…oh ya, ini kartu nama saya” balas pak Pieter.
Sekilas Andra memperhatikan kartu nama beraksen hijau yang diberikan pak Pieter tadi. Tertulis disitu nama Pieter Sandjaya dengan jabatan President Director PT. Innova Food.
“Hmmmm.. ini toh pak Pieter yang punya Innova Food itu. Gue pikir orangnya udah tuir (tua), ternyata masih muda banget aja gituh. Mungkin around 37 to 40 kali yah. Tapi gayanya sih gak resmi-resmi banget. Biasanya kan kalau sepangkatan dia suka pakai suit mahal and lengkap, tapi ini cuman kemeja biasa tanpa tie. Bukannya dia tuh perusahaan besar yah?” pikir Andra
Oke.. sepertinya kita sudah lengkap sekarang… kira-kira apa yang bisa kami bantu pak Pieter? Tanya pak Sastro membuka meeting
Dengan sigap Andra membuka buku catatan kecil dan menyalakan digital recorder untuk merekam semua percakapan dalam meeting yang akan berlangsung.
“Oh ya, harusnya Shilla brand manager saya hadir saat ini, tapi berhubung ada meeting yang tak bisa ditinggal jadi dia agak telat sedikit. Tapi kita bisa mulai dulu barangkali” Pieter
“Oh it’s ok kok Pak, toh orang pentingnya juga sudah hadir disini, itu sudah lebih-lebih dari cukup” Notosastro
“Ha…ha… Pak Sastro bisa saja. Ok, begini Pak, perusahaan kita kebetulan sedang mengembangkan sebuah produk. Produk ini sendiri adalah baru buat kita karena belum pernah kita produksi sebelumnya, baik dari segi jenis, bentuk dan rasanya. Bapak mungkin sudah mengenal produk minuman kita..”
“FarmJuss kan?” potong Notosastro
“Ha…ha… betul sekali Pak” Pieter
“Itu sih sudah ada sejak saya kecil Pak. Dan sampai sekarangpun saya selalu sedia di rumah, anak-anak suka biasanya.” Notosastro
“Wah, gak salah ternyata saya datang kesini, soalnya pak Sastro loyal customer kita yah…ha…ha… Saya lanjutkan ya Pak?” Pieter
“Silahkan…silahkan Pak” Notosastro
“Jadi kita berniat mengembangkan produk baru Pak. Menurut kita dan ini sudah berdasarkan riset yang kita lakukan, produk yang akan kita keluarkan ini termasuk Blue Ocean karena belum pernah ada yang memproduksi produk seperti ini. Nah, jika selama ini Bapak mengenal produk kita adalah berupa jus buah-buahan, baik bubuk maupun ready to drink. Sekarang kita ingin mencoba peruntungan kita untuk bergerak ke produk obat. Kita ingin mencoba menggabungkan antara jus buah-buahan dengan obat, latar belakangnya adalah agar minum obat menjadi sebuah fun experience bagi peminumnya” Pieter
“Maksudnya obat dengan rasa buah Pak? Bukannya itu sudah banyak ya?” tanya Notosastro
“Oh bukan Pak, ini beda dengan yang bapak maksud tadi. Kalau yang seperti itu sudah bukan Blue Ocean dong. Maksud saya adalah, produk ini base-nya adalah jus buah-buahan namun akan kita mix dengan formula obat sehingga minum obat menjadi lebih menyenangkan. Let me ask you question… Do you take medicine everytime you get sick?” tanya Pieter kepada Notosastro
“Of course yes” jawab Notosastro
“But is it fun to take medicine? Do you like the taste?” tanya Pieter lagi
“As an adult I don’t think I have any difficulty to take medicine, it’s being common, isn’t it?” jawab Notosastro dengan pertanyaan
“Ok then, which form of medicine that you usually take…pill, tablet, caplet or syrup?” balas Pieter dengan pertanyaan lagi
“Either… “ jawab Notosastro sedikit bingung
“Ok, but if I give you medicine in the form of ready to drink juice, despite of all conventional form that I mentioned earlier, which one would you choose?” Pieter
“If I were a kid of course I choose juice form, but, since I am a grown up man, I don’t think it would help” Notosastro
“Are you sure?” Pieter
“Absolutely!!!” Notosastro
“Ok, tapi kalau Bapak diberikan pilihan-pilihan tadi di depan Bapak ketika Bapak akan meminum obat, mana yang menurut Bapak lebih menyenangkan untuk diminum?” Pieter
“Yahhh…tentunya saya pilih yang bentuknya jus Pak” Notosastro
“That’s the main idea… bahwa pengalaman meminum obat akan menjadi sangat-sangat menyenangkan” Pieter
“Ahhh I see… quite interesting… gak salah memang nama perusahaannya Innova…ha..ha.. memang sangat inovatif” akhirnya Notosastro mengeti.
“Ha…ha… bisa aja pak Sastro. Jadi kita ingin buat produk ini sebagai jus obat pertama di Indonesia. But the problem is… kita tidak punya line produksi untuk obat dan belum punya experience yang cukup untuk memproduksinya. Selain itu, karena ini adalah obat, kita tidak ingin memakai brand yang sudah exist, karena menurut kita mungkin ini akan merusak eksistensi dari brand yang sudah ada. Toh kita juga gak pengen nanti konsumen malah menganggap bahwa jus yang kita produksi selama ini gak alami dan mengandung obat. Oleh karena itupula kita ingin membeli salah satu brand obat yang mungkin sudah cukup dikenal tapi secara market sedang stuck” Pieter
“Jadi maksud Bapak, perusahaan Bapak ingin membeli merek dan juga memproduksi produk Bapak melalui produsen lain secara toll manufacturing begitu?” Notosastro
“Ya…kurang lebih seperti itu Pak. Ada satu calon yang sudah kita incar. Kita sudah lakukan negosiasi awal dan nampaknya sudah akan cocok. Tapi kita masih ragu dari segi legal apakah pembelian dan kerjasama yang akan kita lakukan sudah tepat” Pieter
“Kalau boleh tahu…perusahaan yang akan diajak kerjasama apa Pak?” Notosastro
“Oh ya saya lupa sebut yah… itu PT. LabMedika, brand yang mau kita beli adalah FluGard, yang menurut kita marketnya lumayan, hanya saja saingannya sudah banyak sekali di pasaran dengan harga yang lebih murah dan sekarang hanya mengandalkan loyal customer saja. Kita akan ubah brand ini menjadi lebih premium dan lebih menyenangkan, selain itu juga kita akan tambahkan kata fluid pada brand-nya menjadi FluGard Fluid” Pieter
“Wah gajah ketemu gajah kayaknya nih Pak ya” Notosastro
“Ha…ha…ha… kurang lebih begitu lah… jadi kira-kira bagaimana ya Pak?” tanya Pieter
“Saya perlu tahu juga, sejauh ini apa yang sudah perusahaan Bapak lakukan sehubungan dengan transaksi ini?” Notosastro
“Oh… ya negosiasi awal sudah kita lakukan Pak seperti yang saya bilang tadi. Harga juga sudah kita sepakati dengan mereka. Selain itu kita juga sudah diberitahu oleh mereka mengenai berapa banyak produk existing yang masih beredar di pasaran serta berapa banyak stock yang masih belum mereka pasarkan.” Pieter
“Hanya itu saja Pak?” Tanya Notosastro
“In general begitu kira-kira” Pieter sengaja menyembunyikan informasi sebagai test terhadap Notosastro.
“Ok kalau begitu, in detail Sir, tadi Bapak bilang kesepakatan mengenai transaksi sudah dibuat pada saat negosiasi awal yah, apakah kesepakatan ini sudah dibuatkan secara tertulis?” Notosastro yang sudah biasa menangani clients seperti Pieter dan sebagai seorang lawyer sudah mengerti betul akan tantangan Pieter tadi.
“Oh tidak ada Pak, kita hanya sepakati secara lisan saja semuanya, kebetulan saya dan James pemilik LabMedika teman satu almamater waktu kita kuliah di State, so… it begun from talk over coffee saja, tapi kita sudah sepakati dan kita akan serius dengan kesepakatan dan transaksi ini” Pieter
“Jadi sama sekali tidak dibuatkan kesepakatan tertulis Pak?” Notosastro
“No… karena memang tidak sempat Pak dan lagipula kita pikir kita sudah saling percaya satu sama lain, jadi kesepakatan tertulis seperti itu bisa menyusul. Tapi saya yakin dia serius kok Pak” Pieter
Notosastro mengangguk-anggukan kepalanya perlahan dengan mata yang sengaja dibelalakkan, kemudian menggigit bibir bawahnya seraya menoleh ke Andra yang dengan kompaknya juga tengah memperhatikan gesture muka partner-nya tersebut.
“Bolehkah saya simpulkan kesepakatan Bapak berdua hanyalah intention saja Pak?” Tanya Notosastro
“Kenapa begitu Pak?.. Well.. I know it was not being written but I think I trust him and he won’t stab me from the back” Pieter
“Well.. I’m not saying that he will stab you from the back.. it’s all about evidence Sir… walaupun sebenarnya secara hukum Indonesia kesepakatan Bapak berdua sudah bisa dikatakan perjanjian walaupun tidak dibuatkan secara tertulis. Pada pasal 1320 Kitab Undang-undang Hukum Perdata atau BW salah satu syarat berlakunya perjanjian adalah adanya kesepakatan diantara kedua pihak.” Notosastro
“Berarti bukan hanya intention dong Pak?” Pieter
“Ya, hanya saja waktu itu Bapak hanya bicara empat mata kan?” Notosastro
“No, karena Shilla waktu itu juga ikut menemani saya” Pieter
“Ada saksi lain selain Shilla?” Notosastro
“Euhh.. tidak ada, hanya kami bertiga” Pieter
“Sebagai alat bukti setidaknya harus ada dua orang saksi Pak… ada adagium untuk itu Pak unus testis nullus testis… satu bukti bukanlah bukti… dan dalam hukum kita pun menganut adagium ini. Tapi diluar dari adanya saksi dan walaupun kesepakatan Bapak berdua saya asumsikan sudah termasuk perjanjian, tapi tetap hitam di atas putih diperlukan Pak, karena ini yang akan menjadi bukti kuat atau otentik apabila terjadi dispute dan harus diselesaikan baik secara musyawarah maupun jalur hukum. Written evidences are the strongest evidences before the Law in Indonesia. Makanya saya bisa bilang bahwa ini hanya intention to contract. Walaupun sebetulnya, tergantung dari sisi mana kepentingannya, kalau Bapak pada posisi LabMedika menurut saya keadaan ini menguntungkan, karena dia bisa tiba-tiba tawarkan ke pihak lain yang menawar harga tertinggi, dan Bapak bisa gigit jari karena toh memang belum ada kesepakatan tertulis.” Notosastro
“Ohh..gitu ya Pak. Tapi saya pikir masa dia tega begitu Pak, lagipula saya kenal dia walau memang tidak terlalu dekat. Dan lagipula tadi Bapak bilang kesepakatan kita tadi sudah termasuk perjanjian? Berarti sah dong Pak?” Pieter
“Everything is possible Sir. Bukannya kita tidak mempercayai orang, tapi sudah ada hukum yang mengatur mengenai itu dan tergantung kondisinya. Memang benar Pak, perjanjiannya saya asumsikan sudah memenuhi unsure Perjanjian, karena sudah ada dua orang bersepakat walau lisan, Bapak berdua berwenang mewakili perusahaan masing-masing walaupun saya harus lihat anggaran dasar dari masing-masing, terus objeknya sudah ada yaitu transaksi tadi dan transaksi mungkin tidak melanggar hukum dan perundang-undangan serta norma yang ada, namun pembuktiannya akan sangat-sangat sulit Pak karena tidak didukung bukti-bukti tertulis. Itu justru yang saya maksudkan, perjanjian masuk ke ranah Perdata Pak, yang mana… segala hal akan dilihat dari segi formil, diantaranya adalah bukti-bukti tertulis saja.” Notosastro
“Ohh.. I see… so what should we do then?” Pieter
“Boleh tahu berapa nilai transaksi yang disepakati dan bagaimana cara pembayarannya?” Notosastro
“Around one and half billion, half after the contract being signed and half after all transaction being accomplished” Pieter
“Apa Bapak tahu status mereknya seperti apa, terus apakah mereka menjaminkan merek mereka, apa mereka memiliki ikatan perjanjian dengan pihak ketiga lainnya?” Notosastro
“Euhmm… terus terang belum, tapi that’s why I come to you right now…ha…ha…ha” Pieter
“Ha..ha… off course… Ok, menurut saya kita apa yang harus kita lakukan sekarang adalah sebagai berikut… first.. kita harus melakukan negosiasi ulang Pak…” Notosastro
“Lho buat apalagi Pak?” potong Pieter terheran
“Untuk memerptegas dan membuat kesepakatan yang Bapak buat di awal tertulis hitam di atas putih. Namun karena semuanya belum diketahui, jadi saya hanya akan membuatkan Memorandum of Understanding saja yang isinya persis seperti apa yang Bapak telah sepakati, namun saya akan tambahkan beberapa klausul termasuk didalamnya adalah hak kita untuk melakukan LDD ke perusahaan mereka..” Notosastro
“LDD? Apa itu Pak?” Tanya Pieter
“Semacam audit menyeluruh untuk hal-hal yang menyangkut legal matters atas brand yang akan Bapak beli beserta dengan line produksinya serta compliance dari perusahaan itu terhadap peraturan yang ada. Terus kita juga akan lihat hubungan LabMedika dengan pihak ketiga, perjanjian apa saja yang sudah mereka buat sehubungan dengan merek yang akan beli nanti. Kita juga ingin melihat apakah merek tersebut bebas dari jaminan atau tanggungan, siapa tahu dia jaminkan. Setelah itu akan kita keluarkan legal opinion, yaitu pendapat hukum kami atas hasil audit tadi beserta legal feasibility dari transaksi ini. Apabila feasible baiknya segera dilanjutkan dengan pembuatan perjanjian pengalihan merek beserta pendaftarannya ke kantor merek dan perjanjian maklon atau toll manufacturing-nya, kira-kira begitu Pak. Apakah Bapak perlu kita damping dalam tahap negosiasinya? Karena sebetulnya akan lebih baik kalau kita juga bisa mendampingi dan mengikuti proses negosiasi bersama Bapak, jadi kita bisa dapat spirit dari transaksinya” Notosastro
“Ya, mungkin lebih baik saya dan tim didampingi, saya pikir Bapak lebih tahu apa yang harus dilakukan” Pieter
“Ok, saya coba konfirmasikan ya Pak, jadi Bapak meminta kantor kami untuk melakukan legal audit untuk kemudian dilanjutkan dengan pembuatan perjanjian pengalihan merek beserta pengurusannya ke kantor merek dan pembuatan perjanjian maklon atau toll manufacturing, serta pendampingan dalam tahapan proses negosiasi begitu kan Pak?” Notosastro
“Ya, kurang lebih seperti itu Pak… tapi saya hanya concern satu hal Pak” Jawab Pieter mantap diikuti dengan catatan Andra pada poin-poin konfirmasi tadi di buku catatannya.
“Apa itu Pak?” tanya Notosastro.
“Layaknya perusahaan lokal, saya hanya concern kalau nanti proses negosiasi menjadi kaku dan tidak efektif karena mereka tahu kita bawa lawyer” Pieter
“Oh jangan khawatir Pak, kita sangat mengerti itu, nanti kita hanya akan pasif saja dalam setiap proses negosiasi tersebut, kita hanya memberikan masukan-masukan saja melalui Bapak dan tetap Bapak yang putuskan” Notosastro
“Oh…ok kalau begitu, saya percaya Bapak tahu apa yang semestinya dilakukan” Pieter
“Bapak sudah ok dengan fee structure yang kita punya?” Notosastro
“Seperti yang ada dalam company profile yang Bapak berikan di awal tadi kan?” Pieter
“Ya betul” Notosastro
“Ok, it’s worth untuk firm sebesar Bapak” Pieter
Untuk ukuran perusahaan lokal memang fee structure NVP terbilang sangat mahal, yaitu menggunakan hourly basis atau perhitungan biaya dihitung berdasarkan waktu yang digunakan. Walaupun bilangannya jam, tapi pekerjaan dua detik saja sudah termasuk kedalam hitungan satu jam itu tadi. Misal pekerjaanya dilakukan selama satu jam empat menit, maka yang empat menit tadi akan dibulatkan menjadi satu jam, jadi yang akan ditagih adalah sebanyak dua jam. Fee Structure untuk partners adalah USD 350 per jam, namun untuk Notosastro dan Verdinand fee mereka adalah USD 400 per jam. Sementara untuk senior associate USD 250 per jam, associate USD 200 per jam dan junior associate USD 120 per jam.
Tiba-tiba terdengar bunyi nada dering dari handphone Pieter, nampaknya ada sms yang masuk.
“Wah, ternyata Shilla baru selesai dari meeting-nya Pak, I think she could not joint us today” Pieter
“Nevermind… we still have long time with this case I think… ha…ha…ha…” Notosastro
“Baiklah kalau begitu, saya rasa kita sudah mencapai kesepakatan. Untuk follow up, nanti Andra akan jadi handling lawyer untuk case ini. Dia nanti akan siapkan mulai dari surat kuasa dan lainnya untuk Bapak” Notosastro
“Ya, saya rasa begitu. Semoga transaksi ini akan lancar ya” Pieter
“Kami doakan dan usahakan begitu Pak, jangan khawatir” Notosastro
“Baiklah, saya tunggu follow up-nya, sementara itu saya permisi dulu, soalnya saya harus pimpin rapat di kantor” Pieter
“Ok Pak, nanti Andra akan follow up” Notosastro sambil menepuk pundak Andra yang dengan sigap mematikan digital recorder dan menutup buku catatannya.
“Salam buat Pak Tanri ya Pak” Notosastro
“Oh ya Pak, nanti saya sampaikan” Pieter
Ketiganya kemudian keluar dari ruang BW. Sebagai tuan rumah yang baik, Notosastro dan Andra mengantar tamunya hingga ke lift. Pak Pieter tak henti-hentinya mengagumi interior kantor NVP di sepanjang perjalanan menuju ke lift. Dan pertemuan pun diakhiri dengan lambaian tangan dan tertutupnya pintu lift secara perlahan.
“Ternyata biasa banget ya Pak orangnya? Tapi saya juga heran, mereka kan lulusan States ya Pak, tapi masih lisanan begitu” tanya Andra sepeninggal Pieter
“Ya katanya memang dia low profile Ndra. It runs in the family. Dia ini generasi kedua penerus Innova Food. Kita sih gak pernah handle case mereka, lagian katanya dulu bapaknya paling alergi sama yang namanya lawyer, biasa lah local company, maunya banyak bayarnya irit…he…he… Cuman anaknya ini emang lama di states jadi mungkin gak sebegitu alergi sama lawyer… tapi ya itulah, mungkin budaya sungkanan dan percayaan memang Indonesia banget atau mostly Asian begitu, tapi ya itu tadi Ndra… tergantung kondisi juga”
“Tapi kok bisa langsung kesini Pak? Kan kita juga gak murah?”
“Yahh gue gitu lho…” jawab Sastro ala abg
“Hmmm.. sok asik deh nih… males deh gue” gumam Andra dalam hati
“He…he… mereka dapat rekomendasi dari keluarganya, pak Tanri itu kan masih keluarganya dia juga, adik kandung dari bapaknya Pak Pieter”
“Oohhh pak Tanri itu masih keluarganya pak Pieter toh”
You know what to do kan Ndra?”
“I sir!!” jawab Andra layaknya tentara GI
“Great…”
Lalu keduanya berpisah di lobby menuju ke ruangan mereka masing-masing.

No comments: