Saturday, March 21, 2009

BAB VI Selamat Pagi Shilla


Simple, satu kata yang tepat diberikan kepada Shilla. Seperti halnya pagi ini dan pagi lainnya, Shilla tidak pernah menghabiskan waktu lebih lama dari 5 menit untuk mandi pagi. Tidak banyak ritual yang dilakukan dibandingkan gadis seusia pada umumnya. Walaupun begitu, keringkasan itu tidak mengorbankan sedikitpun kesegaran yang memang seharusnya dihasilkan dari dinginnya guyuran air di pagi hari. Keringkasan kemudian berlanjut lagi pada kegiatan lain setelah mandi, yaitu berpakaian dan mempercantik diri. Lagi-lagi kurang dari 5 menit, Shilla sudah rapi berpakaian. Yang memang tidak heran, karena Shilla selalu mempersiapkan segala sesuatu yang dia perlukan di hari ataupun malam sebelumnya. Menariknya adalah, untuk pakaian, pasangan dan padu padannya, Shilla sudah mempersiapkan semuanya lengkap di hari Minggu, setiap pasang berjejer rapi dalam lemari, dengan label imajiner menunjukkan tanda hari apa pakaian tersebut akan dipakai, dimulai dari sebelah kiri untuk hari Senin dan terus ke kanan hingga hari Jum’at. Untuk hari Sabtu dan Minggu? Adrenaline-lah yang akan menentukannya. “That’s the beauty of the weekend for the weekenders” begitu slogan Shilla untuk akhir pekan. Baginya keseimbangan sangat penting, untuk itulah dia selalu menyimpan kejutan-kejutan di akhir pekan agar selalu punya energi positif dalam menjalani rutinitas di hari-hari kerja. Sementara untuk urusan merias diri, jangan pernah tanya, lagi-lagi selalu ringkas. Tidak lebih dari 1 menit, kecuali untuk acara-acara khusus, mungkin tidak lebih dari 5 menit. Shilla tidak pernah ber-make up. Buat Shilla make up hanya tipuan untuk mata yang memandang dan selebihnya hanyalah penghamburan waktu saja. Shilla percaya apa yang telah diberikan Tuhan sudah sangat indah dan sempurna. Jadi, make up hanya perlu dia persiapkan dari dalam dirinya. “Inner beauty works amazingly powerful” slogan lainnya yang selalu ditanamkan Shilla dalam hatinya.

Jam menunjukkan pukul tujuh kurang seperempat pagi, nasi goreng telor ceplok kesukaannya sudah mulai dicerna dalam perutnya sekarang, dalam beberapa menit lagi biasanya Yosie sudah datang menjemput. Pria yang sangat baik. Shilla mengenal Yosie sebagai teman seangkatan di masa kuliah dulu. Awalnya sih biasa saja, toh Yosie dulu hanya teman bermain, malahan pertama kali hanya teman belajar saja. Mulanya teman yang satu ini terkesan aneh, ya aneh, karena terlalu kaku dan sepertinya canggungan. Tapi lama-lama, mungkin seperti pepatah Jawa, “witing tresno jalaran soko kulino”, perlahan tapi pasti, karena sering bertemu dan berinteraksi, benih-benih cinta itu tumbuh juga di hati Shilla. Pembicaraan jadi nyambung dari hari ke hari dan perasaan nyaman akhirnya menyelimuti aura Shilla. Walaupun akhirnya Shilla tahu, bahwa Yosie sudah menaruh hati dari awal mereka melakukan kegiatan bersama, tapi hebatnya gak pernah kentara walaupun sedikitpun. Padahal Shilla dulu terkenal sebagai salah satu bintang angkatan, malah mungkin sefakultas. Banyak pria yang menaruh hati padanya. Kesupelan, keramahan, keceriaan, kecantikan dan kesederhanaan Shilla membuat banyak pria kesengsem. Tapi banyak yang berguguran, patah hati dan frustasi untuk mendapatkan cinta Shilla. Dan Yosie-lah, satu diantara berpuluh, beratus atau kalau mau berlebihan, beribu, pria yang akhirnya mampu menaklukkan kerasnya hati Shilla.

Yosie sendiri hanya lelaki yang biasa-biasa saja. Disebut ganteng juga tidak, tapi jelek juga tidak. Kurus tidak, kekar tidak, gemuk juga tidak. Mungkin sedang-sedang saja. Tidak banyak cerita percintaan yang dimiliki Yosie. Sepanjang umurrnya dia baru berpacaran 2 kali saja, waktu SMP dan SMA. Itupun dengan cara yang hampir sama, yaitu dari ajang belajar bersama. Tidak banyak pria yang sesabar Yosie, memendam dan mengaburkan rasa cintanya dan menunggu saat yang tepat untuk menyatakannya. Seperti halnya mengerjakan sebuah proyek, Yosie selalu punya blue print untuk segala sesuatu, termasuk urusan percintaan. Tahap demi tahap direncanakan dengan rapi, lengkap dengan plan A, B, C dan bila perlu sampai Z.

Yosie mengenal Shilla pertama kali di saat ospek kampus. Hanya saja bedanya waktu itu Yosie masih punya pacar dan tidak punya perasaan apapun terhadap Shilla. Tapi Yosie mengakui bahwa ada sesuatu yang istimewa dalam diri Shilla di awal-awal bertemu, yang mungkin juga dilihat atau dirasakan pria lain di saat itu, termasuk senior di kampus, yaitu, Shilla adalah gadis yang berbeda. Gadis ini punya sesuatu yang lain. Kalaupun dia harus mencari gadis ini diantara begitu banyaknya kerumuman manusia, Shilla tetap dapat menarik perhatian dengan mudah. Andai Shilla harus menjadi salah satu tokoh yang ditempatkan dalam gambar Where’s Wally, diantara begitu banyak gambar tokoh yang membingungkan, Shilla pasti bisa dengan mudah ditemukan.

Yossie kemudian putus dengan pacar SMA-nya ketika dia memasuki tahun ke-2 kuliah. Putus menjadi jalan terbaik setelah mereka sudah tidak menemukan kecocokan dalam berhubungan. Semenjak itu hingga tahun ke-4 Yosie men-jomblo kembali. Hingga akhirnya di tahun ke-4 Yosie kembali jatuh cinta. Saat ini dirasakannya sangat berbeda sekali. Dia menemukan apa yang dia inginkan dalam diri seorang gadis, yang juga menjadi perburuan cinta bagi laki-laki lainnya di kampus. Dia menemukan Shilla. Ya, Shilla, setelah selama ini tidak pernah terpikirkan olehnya sama sekali, mungkin karena dia masih punya pacar. Yosie tahu segala sesuatunya akan sulit dan tidak semudah yang sebelum-belumnya. Sempat beberapa kali Yosie kehilangan kepercayaan diri, apakah dia sanggup mendapatkan hati Shilla. Diingatnya beberapa rekan, senior maupun juniornya yang kalah KO mendapatkan cinta Shilla. Banyak diantara mereka bahkan terkenal sebagai bintangnya kampus dan digilai gadis-gadis lain. Keinginan untuk mundur pernah menggerogoti pikirannya. Namun selalu ada yang membuatnya kembali kepada angan-angan akan Shilla. Hingga akhirnya keberanian terkumpul kembali, Yosie kemudian merancang rencana seperti biasanya. Dia pikirkan matang-matang apa yang harus dia perbuat agar membedakan dirinya dengan laki-laki lain yang pernah mendekati Shilla. Teman-teman dekat Shilla pun didekatinya untuk mendapatkan informasi. Dengan tekun akhirnya dia bisa masuk ke lingkaran pertemanan Shilla, dan ini selalu menjadi jurus jitu untuk mendekati gadis. Dari sanalah akhirnya Yosie mengetahui bahwa cara yang paling tepat untuk mengenal dan mendekati Shilla adalah melalui jalur pertemanan dan grup belajar. Ternyata rencana Yosie memang jitu. Hari demi hari, minggu demi minggu dan bulan demi bulan berlalu. Mereka akhirnya mengenal satu sama lain. Yosie tidak pernah memaksakan suatu apapun pada Shilla dan bahkan lebih mengikuti kemana arus yang diciptakan Shilla. Dengan sabar dan penuh keuletan ditahannya hasrat cinta untuk tidak diungkapkan hingga Shilla menunjukkan tanda-tanda yang bisa dibayangkan olehnya. Yosie tahu yang Shilla inginkan hanya kenyamanan dan percakapan yang tak pernah terputus. Perlahan tapi pasti Yosie melancarkan jurus-jurus jitu cintanya kepada Shilla. Dia modifikasi standar tarik-ulur untuk Shilla agar lebih terkesan berkelas dan berbeda dari yang pernah Shilla dapatkan dari pria lainnya. Di akhir masa kuliah akhirnya hati Shilla luluh juga, baja itu kini telah melepuh, es itu kini telah mencair. Akhirnya yang diinginkan dapat diraihnya juga. Hingga kini, 2,5 tahun sudah mereka menjalani hubungan kekasih ini.

Shilla sendiri dikenal berhati baja, atau bahkan ada yang menyebutnya berhati es. Layaknya baja atau es, Shilla memang tergolong sangat dingin dan keras terhadap laki-laki. Keras dan sulit diluluhkan. Prinsipnya hanya satu mengenai percintaan, bahwa dia hanya akan mencintai seseorang lelaki yang tepat bagi dirinya di saat yang tepat dan kalau perlu, hanya satu kali untuk satu pria. Prinsip yang cukup fantastis dan mencengangkan. Di zaman seperti sekarang masih ada gadis yang memiliki prinsip seperti itu. Tak bisa dipercaya memang, di saat jutaan gadis lain sedang ingin-inginnya menikmati hidup dan menikmati indahnya percintaan bahkan di usia yang masih muda, bahkan ada yang dari SD sudah punya pacar. Namun bagi Shilla, bukanlah itu satu-satunya cara menikmati hidup, sangat sempit bila kesenangan dan nikmatnya hidup hanya dinilai dari banyaknya kisah asmara yang telah dijalin atau berapa sering dia menaklukkan laki-laki yang diinginkan. Menurut Shilla justru memegang teguh prinsip juga adalah suatu kenikmatan dalam hidup. Dengan memegang teguh prinsip seakan kita memiliki puncak gunung yang harus didaki, dimana di puncaknya bisa kita dapati bendera pencapaian kita. Ada sebuah pleasure yang bisa didapat ketika berhasil mendapatkannya. Shilla hanya ingin bergaul, berteman dan belajar. Shilla mengerti kerasnya hidup. Shilla mengerti sulitnya mendapatkan pekerjaan bila tidak diiringi dengan pendidikan yang baik. Adalah orang tua Shilla yang selalu memberikan pengertian dan arahan kepada Shilla untuk fokus pada pendidikannya. Dengan sabar dan telaten mereka tanamkan prinsip tersebut dari semenjak Shilla kanak-kanak hingga menjelang dewasa.


Teman Shilla sangatlah banyak. Laki-laki maupun perempuan. Namun perbandingan antara jumlah teman laki-laki dan perempuan memang tak bisa dipungkiri lebih timpang ke jumlah teman-teman laki-laki. Tidak mengherankan karena Shilla banyak fans-nya. Dari yang memang hanya sekedar kagum terus menyimpannya dalam hati, atau yang malah punya nyali dan pemberani terus menyatakan cinta dan ditolak hingga yang ke-ge-er-an terus menyangka Shilla punya hati dan suka akhirnya menyatakan cinta tapi ternyata gigit jari karena realita tak seindah ke-ge-er-annya. Hal ini tidak bisa disalahkan 100% sebagai kebodohan mereka, karena cinta memang membikin bodoh. Yang menjadi faktor penentu lain adalah, karena Shilla adalah gadis yang berprilaku baik terhadap siapapun, walaupun terhadap fans fanatik yang bisa ke-ge-er-an seperti yang tadi disebutkan itu. Asal tidak terlalu berlebihan dan mengganggu, maka Shilla akan tetap baik hati, ramah dan murah senyum. Salah tafsir jadi bisa dimaklumi karena Shilla juga tidak menerbitkan kamus untuk menterjemahkan perlakukannya tersebut. Disadari ataupun tidak, Shilla sebetulnya punya sifat menyimpan fans, yaitu sifat baik hati, ramah dan murah senyum tadi dan tidak ingin mengecewakan orang lain yang sudah baik padanya. Padahal Shilla bisa keras juga terhadap orang-orang yang memang menyebalkan bagi dirinya, apalagi kalau sudah ada orang psicko yang menyukai dan membuntutinya kemanapun layaknya stalker. Pernah suatu saat Shilla diteror seseorang, dengan berbagai telepon dan sms tak jelas yang dating bertubi-tubi, baik dari nomor yang sama maupun berbeda. Orang-orang di rumah juga kecipratan getahnya. Karena ternyata terror juga sampai ke rumah Shilla. Seisi rumah dibuat kesal oleh penelepon misterius yang selalu menutup telepon ketika telepon diangkat, atau menutup teleponnya ketika Shilla menerima teleponnya dan mengatakan halo. Yang terakhir ini membuat pesawat telepon Shilla di rumah akhirnya harus diganti dengan pesawat yang menggunakan caller id agar nomor telepon penelepon bisa dikenali dengan mudah dan kemudian Shilla bisa tahu siapa penelepon pengecut yang misterius tersebut. Tapi hebatnya, dia bisa melalui itu tanpa terjadi hal-hal yang tidak diinginkannya.

Terdengar suara decit rem sepeda motor di depan rumah Shilla, sepertinya Yosie sudah datang menjemput. Dilihatnya keluar melalui jendela siapakah gerangan, walaupun sudah menduga bahwa yang dating adalah Yosie. Sedikit berjinjit dan menyingkapkan gorden jendela ruang tamu, seperti dugaannya tadi, ternyata memang benar yang dating adalah Yosie. Dengan motor skutiknya berwarna hitam sudah terparkir di depan pagar rumah. Bergegas Shilla mengambil tas yang tergeletak di sofa dan meninggalkan program infotaintment yang sedang ditontonnya di salah satu stasiun teve swasta.

“Maaaaaaa… Shilla pergi dulu yaaahhhh… dahhh Mamaaaaaaa!!!!” kemudian berlalu menuju ke halaman rumah.

“Yaaaaa… ati-ati ya naaakkkkk.. pulangnya jangan malam-malam!!” pesan Mama singkat dari dalam dapur.

Dibukanya pintu ruang tamu untuk kemudian menghampiri Yosie yang baru saja membuka pintu pagar dan masuk ke dalam halaman rumah Shilla.

“Pagi sayang!” sapa Yosie girang

“Pagiii cayangkuuu…” balas Shilla dengan senyumnya yang lebih hangat dari mentari pagi

Diusapnya kepala Shilla perlahan dengan tangan yang masih terbungkus sarung tangan.

“Bentar aku pamit dulu sama Mama kamu yah, dia ada dimana yah?”

“Di dapur tuh, tapi kamu gak usah masuk deh, teriak aja dari pintu, dia lagi sibuk banget soalnya masakin buat Papa”

“Ya wis deh, kamu pake masker ma helm dulu gih, biar cepet”

“Oke, aku pake helm dulu deh” kemudian berjalan menuju motor, mengambil helm half face kesayangan berwarna biru dengan kaca menutupi seluruh wajah hingga dagu yang tergantung di tempat gantungan helm. Setelah itu ,mengikatkan bandana segitiga menutupi mulut agar terhindar dari polusi, mirip seperti gaya Rambo ketika beraksi, hanya beda tempat dan situasi saja. Setelah rapid an memastikan tidak akan ada polusi yang bisa melewati hidungnya, memakai helm-pun kemudian menjadi ritual terakhir sebelum menaiki motor.

“Tante… kita pergi dulu yahhh” sapa Yosie setengah berteriak sekaligus pamitan dari pintu depan rumah Shilla

“Iyaa Yoss… hati-hati yahh di jalan” balas Mama Shilla dari dalam dapur

‘Iya Tantee…” kemudian bergegas menuju motor yang diparkir depan pagar rumah tadi dan terlihat Shilla sudah berdiri siap untuk dibonceng

“Let’s go honeyyy…!!”

“Tariiik jabriiik!!” dengan gaya menirukan film grup the Changcuters.

“Eh…tapi kamu yakin gak ada yang ketinggalan nih?”

“Kayaknya sih gak ada yang”

“Beneran yah? Coba cek lagi tasnya! Entar kayak dulu tuh yang kamu kalut ketinggalan hp di rumah”

“Gak ada kok” tangan Shilla dengan cekatan mengecek alat-alat yang ada di tasnya satu per satu. “Tuh kan gak ada…yeeyyyyy… gak percaya sih ma aku” dengan mata menutup satu dan lidah menjulur keluar.

“Ya wis kalau gak ada… aku kan cuman ngingetin… yeeeeee” balas Yosie dengan lidah menjulur juga.
Keduanya sudah berada di atas motor sekarang. Helm sudah dikenakan dan dikencangkan. Mesin motor menyala seketika setelah ibu jari Yosie yang terbalut sarung tangan telah memijit tombol staternya. Standar motor perlahan dilepaskan. Motorpun melaju dengan perlahan meninggalkan rumah Shilla… terasa hangat tangan dan pelukan Shilla di tubuhnya saat gadis itu memeluknya erat. Seakan tidak ingin berpisah dan perjalanannya akan sanagt aman dan menyenangkan. Pagi yang romantis… setidaknya bagi mereka berdua.

No comments: